CERPEN
Pendengar
Aku bertemu dengan satu wanita ini. Parasnya tidak terlalu rupawan, tapi dia masih bisa tersenyum tulus bagaimana pun keadaannya. Dia kuat, dan aku tahu itu dengan pasti.
Kami suka bertukar cerita atau mengeluhkan permasalahan kuliah yang ada. Aku lebih sering menjadi pendengar, dia lebih sering berbicara. Ada satu momen di mana kami sedang ngobrol berdua di sebuah rumah makan samping sawah. Kami sama-sama tidak mengira kalau waktu akan berjalan begitu cepat. Ketika pulang, kami masuk ke dalam mobil berdua, dengan harapan masih bisa bertemu pada sebuah kebetulan.
Sejenak, dia terdiam sebentar, menyampingkan pandangannya ke arahku. "Kamu enggak capek apa, ngedengerin aku cerita terus?" tanya dia tiba-tiba.
Aku berpikir sejenak, lalu menjawab, "Enggak tuh," kataku, memegang stir mobil dengan kedua tangan. "Jadi pendengar buat kamu sama aja belajar memahamimu. Aku tahu kalau kamu sulit buat terbuka sama orang lain, dan itu menjadi alasan kenapa aku bisa ada di sampingmu, sekarang."
Satu detik berlalu, kami diam dalam nyaman. Sekali lagi aku bisa membuatnya tersenyum.
Komentar
Posting Komentar